Kebiasaan seperti menggigit kuku, mengisap jempol, atau menarik rambut sering kali dianggap hal sepele pada anak. Banyak orang tua mengira perilaku tersebut hanyalah fase perkembangan yang akan hilang dengan sendirinya. Namun, dalam beberapa kasus, kebiasaan ini bisa menjadi cara anak menyalurkan rasa cemas, tidak nyaman, atau ketegangan yang belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata.

Sebagai orang tua, memahami makna di balik perilaku anak jauh lebih penting daripada sekadar menghentikannya.


Mengapa Anak Melakukan Kebiasaan Ini?

Pada dasarnya, anak belum memiliki kemampuan regulasi emosi yang matang. Ketika mereka merasa:

  • Cemas

  • Takut

  • Bosan

  • Tertekan

  • Kurang perhatian

  • Menghadapi perubahan lingkungan (misalnya masuk sekolah baru, kelahiran adik, konflik keluarga)

Tubuh mereka mencari cara untuk menenangkan diri. Kebiasaan seperti menggigit kuku atau mengisap jempol memberikan efek menenangkan (self-soothing). Perilaku ini mirip dengan mekanisme coping sederhana yang membantu anak merasa lebih aman.

Dalam psikologi, perilaku berulang seperti ini juga bisa berkaitan dengan respons stres ringan hingga sedang. Jika berlangsung terus-menerus dan semakin intens, penting untuk mengevaluasi kondisi emosional anak secara lebih mendalam.


Kapan Perlu Diwaspadai?

Tidak semua kebiasaan perlu dikhawatirkan. Namun, orang tua perlu lebih waspada jika:

  • Kebiasaan dilakukan sangat sering dan sulit dihentikan

  • Menyebabkan luka fisik (kuku berdarah, rambut menipis)

  • Anak tampak cemas berlebihan

  • Disertai perubahan perilaku lain (menarik diri, mudah marah, sulit tidur)

  • Mengganggu aktivitas sosial atau sekolah

Menarik rambut secara kompulsif misalnya dapat mengarah pada kondisi seperti Trichotillomania, yaitu gangguan kontrol impuls yang berkaitan dengan kecemasan.


Mengapa Tidak Dianjurkan Memarahi Anak?

Memarahi, mengancam, atau mempermalukan anak justru dapat memperparah kebiasaan tersebut. Anak bisa merasa:

  • Tidak dipahami

  • Malu

  • Bersalah

  • Semakin cemas

Akibatnya, perilaku justru meningkat karena stres bertambah. Pendekatan yang empatik jauh lebih efektif dibandingkan hukuman.


Strategi Pendampingan yang Sehat

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua:

1. Identifikasi Pemicu

Amati kapan kebiasaan muncul. Apakah saat anak lelah? Saat belajar? Saat berada di tempat baru?

2. Berikan Alternatif

Alihkan dengan aktivitas lain seperti:

  • Mainan sensorik

  • Menggambar

  • Bermain plastisin

  • Teknik napas sederhana

3. Validasi Emosi Anak

Ajarkan anak mengenali dan menyebutkan perasaannya:

“Kakak lagi merasa cemas ya?”
“Tadi di sekolah ada yang bikin tidak nyaman?”

4. Ciptakan Rasa Aman

Rutinitas yang konsisten dan komunikasi hangat membantu anak merasa stabil secara emosional.

5. Konsultasi Profesional

Jika kebiasaan menetap atau memburuk, konsultasi dengan psikolog anak dapat membantu menggali akar permasalahan serta memberikan intervensi yang tepat.