Ketika Neurosains Mengklaim Mengalahkan Psikologi
Oleh Al Amin Ibnu (Founder MindHarmony )
Pada beberapa waktu terakhir dimedia sosial banyak "pakar dadakan" yang mendewakan neurosains dan menganggap bahwa psikologi ilmu yang usang dan tidak relevan lagi digunakan. Dan menggap bahwa psikolog merupakan omong kosong, padahal jika ingin membandingkan yang tepat adalah "Neurosains Dengan Psikologi", karena psikolog adalah praktisinya bukan ilmunya, dan tidak semua "psikolog" merupakan psikolog yang update keilmuan, apalagi tidak semua psikolog merupakan psikolog klinis. Jadi ketika kita ingin membandingkan maka bandingkanlah NeuroSains dengan Psikologi, sedangkan ilmu psikologi sendiri merupakan ilmu yang luas dan memperhatikan multi faktor (biologi, sosial, psikologi, dll)
Sebenarnya dalam keilmuan perkembangan adalah suatu kewajaran, bahkan dibilang sebuah keharusan. Pengetahuan atau penelitian baru dengan sampel lebih besar dan metode penelitian yang lebih ajeg bisa menguatkan penelitian terlebih dahulu atau malah mematahkan seluruh kesimpulan penelitian sebelumnya. Btw, saya sebelumnya juga menulis tentang runtuhnya Psikoanalisa, mungkin sedikit relate dengan pembahasan kita, jika belum baca lihat - disini yah >>
Sebut saja dalam dunia medis, dulu banyak kalangan yang menganggap bahwa lemak merupakan pembunuh namun sekarang sudah berganti bahwa karbo merupakan pembunuh utama.
Termasuk juga dalam dunia psikologi tentu banyak pembaruan keilmuan, dikotomi otak kanan kiri, otak laki-laki perempuan dan perempuan merupakan salah satu contoh kesalahan intepretasi yang mulai ditinggalkan psikolog yang ilmunya update. Lalu apakah ini semua membuat bahwa seluruh keilmuan psikologi akan runtuh? tentu saja tidak !
Otak merupakan sesuatu yang komplek, bukan sekedar sebuah mesin namun mesin hidup yang bisa terubah dengan bahan bakar pengalaman, emosi, lingkungan dan banyak variabel lain
Yuk kita bisa lebih dalam...
Neurosains dan Psikologi: Rival atau Sekutu?
Gagasan bahwa neurosains akan “mengambil alih” peran psikologi terdengar menggoda, tetapi juga menyesatkan. Neurosains dan psikologi bukanlah dua disiplin yang saling meniadakan, melainkan dua lensa yang melihat fenomena yang sama dari sudut berbeda.
Neurosains berfokus pada bagaimana otak bekerja—struktur saraf, neurotransmiter, jaringan neural, dan mekanisme biologis yang mendasari perilaku. Ini adalah kontribusi yang sangat berharga dan tidak bisa diabaikan.
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dapat dijawab hanya dengan pemindaian otak.
Psikologi: Ilmu tentang Makna, Bukan Sekadar Mekanisme
Psikologi telah berkembang selama berabad-abad sebagai ilmu yang mempelajari perilaku dan proses mental manusia dalam konteks kehidupan nyata. Psikologi tidak hanya menjelaskan apa yang terjadi di otak, tetapi juga apa yang terjadi dalam kehidupan seseorang.
Dua orang bisa menunjukkan pola aktivitas otak yang serupa, namun memiliki pengalaman psikologis yang sangat berbeda. Trauma, kehilangan, nilai hidup, budaya, dan relasi interpersonal tidak tersimpan rapi dalam satu area otak tertentu. Semua itu hidup dalam narasi manusia.
Di sinilah psikologi menjadi tak tergantikan—bukan sebagai lawan neurosains, melainkan sebagai pelengkapnya.
Otak Bukan Mesin, Manusia Bukan Algoritma
Bayangkan otak manusia sebagai sebuah orkestra. Neurosains membantu kita memahami bagaimana masing-masing instrumen bekerja: biola, piano, drum, dan konduktornya. Namun memahami alat musik saja tidak cukup untuk menjelaskan keindahan sebuah simfoni.
Untuk memahami mengapa musik itu menyentuh perasaan, kita perlu memahami emosi, konteks, makna, dan pengalaman pendengar. Itulah wilayah psikologi.
Tanpa psikologi, neurosains berisiko mereduksi manusia menjadi mesin biologis. Tanpa neurosains, psikologi kehilangan pemahaman mekanistik yang penting. Keduanya saling membutuhkan.
Kolaborasi, Bukan Dominasi
Ketika neurosains dan psikologi berjalan beriringan, kita memperoleh pemahaman yang jauh lebih utuh—tentang kesehatan mental, perilaku manusia, dan kesejahteraan hidup. Dari intervensi klinis hingga kebijakan publik, dari terapi hingga pendidikan, kolaborasi ini membuka peluang yang jauh lebih manusiawi dan efektif.
Kemajuan neurosains dalam dua dekade terakhir memang luar biasa. Teknologi seperti fMRI, EEG, PET scan, hingga machine learning memungkinkan praktisi “melihat” otak bekerja secara real time bukan lagi dengan teori. Tak heran jika muncul klaim—baik eksplisit maupun implisit—bahwa memahami otak berarti memahami manusia sepenuhnya.
Namun di sinilah letak masalahnya: memahami otak tidak otomatis berarti memahami pengalaman manusia.
Kelemahan Fundamental Neurosains (yang Jarang Dibicarakan)
1. Masalah Reduksionisme
Neurosains cenderung mereduksi fenomena psikologis yang kompleks menjadi aktivitas neural semata. Emosi, cinta, trauma, motivasi, atau makna hidup sering disederhanakan menjadi “aktivasi area X” atau “ketidakseimbangan neurotransmiter Y”.
Padahal, seperti dikritik oleh Bennett & Hacker (2003) dalam Philosophical Foundations of Neuroscience, banyak klaim neurosains terjebak dalam mereological fallacy:
mengatribusikan sifat manusia (berpikir, merasa, berniat) kepada bagian tubuh (otak), bukan kepada manusia sebagai keseluruhan.
Otak tidak “merasa sedih”. Manusia-lah yang merasa sedih, dengan otak sebagai salah satu sistem pendukungnya.
2. Masalah Inferensi Terbalik (Reverse Inference)
Namun Poldrack (2006) menegaskan bahwa inferensi semacam ini secara ilmiah lemah. Satu area otak dapat terlibat dalam berbagai fungsi psikologis yang berbeda. Aktivasi neural tidak pernah bersifat satu makna.
Artinya, melihat otak aktif bukan berarti kita otomatis tahu apa yang sedang dialami seseorang secara subjektif.
3. Keterbatasan Konteks Sosial dan Budaya
Neurosains bekerja sangat baik di laboratorium, tetapi sering kehilangan konteks kehidupan nyata. Padahal perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh:
- budaya
- relasi sosial
- nilai
- sejarah hidup
- pengalaman traumatis
Bronfenbrenner (1979) dan psikologi kontekstual menunjukkan bahwa perilaku tidak bisa dilepaskan dari sistem ekologisnya. Neurosains, dengan fokus biologisnya, tidak dirancang untuk menjawab pertanyaan kontekstual ini.
4. Neurosains Lemah dalam Intervensi Psikologis
Mengetahui di mana gangguan terjadi di otak tidak otomatis menjawab bagaimana membantu seseorang berubah.
Bukti kuat justru datang dari evidence-based psychotherapy, bukan dari intervensi biologis semata:
- CBT terbukti mengubah pola pikir dan pola aktivasi otak (Beck, 2011; DeRubeis et al., 2008)
- Mindfulness & Acceptance-based Therapy menunjukkan perubahan neuroplastisitas tanpa intervensi farmakologis (Hölzel et al., 2011)
- Psychodynamic therapy menunjukkan perubahan kepribadian jangka panjang (Shedler, 2010)
Fakta pentingnya: intervensi psikologis mengubah otak, bukan sebaliknya saja.
Bukti Neurosains Justru Mendukung Psikologi
Ironisnya, banyak temuan neurosains modern justru menguatkan psikologi:
- Neuroplastisitas (Doidge, 2007): pengalaman psikologis membentuk struktur otak
- Attachment theory terbukti memiliki korelat neural (Schore, 2012)
- Trauma psikologis terbukti mengubah sistem limbik dan prefrontal cortex (van der Kolk, 2014)
Semua ini menunjukkan satu hal penting:
Pengalaman subjektif bukan produk sampingan otak, tetapi faktor aktif yang membentuk otak.
Psikologi: Ilmu tentang Makna dan Perubahan
Jika neurosains unggul dalam menjelaskan mekanisme, maka psikologi unggul dalam:
- memahami makna pengalaman
- memetakan pola perilaku
- merancang intervensi perubahan
- membantu manusia membangun fungsi adaptif
Seperti ditegaskan oleh Engel (1977) dalam Biopsychosocial Model, kesehatan mental tidak pernah bisa dijelaskan hanya oleh faktor biologis. Ia selalu merupakan interaksi antara biologis, psikologis, dan sosial.
Mari kita Buat kesimpulanya....
Kolaborasi, Bukan Superioritas
Neurosains mungkin memetakan detail mekanis otak dengan presisi tinggi.
Referensi Inti (Evidence-Based)
- Bennett, M. R., & Hacker, P. M. S. (2003). Philosophical Foundations of Neuroscience
- Poldrack, R. A. (2006). Can cognitive processes be inferred from neuroimaging data? Trends in Cognitive Sciences
- Engel, G. L. (1977). The need for a new medical model. Science
- Beck, J. S. (2011). Cognitive Behavior Therapy
- DeRubeis et al. (2008). Cognitive therapy vs medication in depression. Archives of General Psychiatry
- Hölzel et al. (2011). Mindfulness practice leads to increases in brain gray matter density. Psychiatry Research
- Shedler, J. (2010). The efficacy of psychodynamic psychotherapy. American Psychologist
- van der Kolk, B. (2014). The Body Keeps the Score
- Doidge, N. (2007). The Brain That Changes Itself
- Schore, A. N. (2012). The Science of the Art of Psychotherapy