Ketika Penyintas Menjadi “Ahli”: Antara Pengalaman Pribadi dan Tanggung Jawab Profesional

Oleh Al Amin Ibnu (Founder Mindharmony Indonesia) 

Di era media sosial, kita semakin sering melihat seseorang yang pernah mengalami suatu kondisi kesehatan kemudian membagikan pengalamannya kepada publik. Tidak ada yang salah dengan itu. Bahkan, banyak orang merasa terbantu karena menemukan harapan dari kisah orang lain yang berhasil bangkit dari kesulitan.

Namun, ada satu fenomena yang menarik untuk kita renungkan bersama: ketika pengalaman pribadi mulai diposisikan sebagai keahlian profesional.

Bayangkan sebuah situasi.

Seseorang pernah mengalami diabetes. Ia berobat, menjaga pola makan, berolahraga, dan akhirnya kadar gula darahnya membaik. Itu tentu kabar yang menggembirakan.

Tetapi kemudian, alih-alih hanya berbagi pengalaman, ia membuka kelas berbayar dan konsultasi dengan judul "Cara Menyembuhkan Diabetes". Banyak orang tertarik karena ia pandai berbicara, memiliki banyak pengikut, dan terlihat meyakinkan.

Pertanyaannya, apakah pengalaman pribadi otomatis membuat seseorang kompeten menangani kondisi orang lain?

Belum tentu.

Karena setiap individu memiliki kondisi yang berbeda. Apa yang berhasil pada satu orang belum tentu berhasil pada orang lain. Bahkan dalam dunia medis sekalipun, seorang profesional tidak hanya melihat gejala, tetapi juga mempertimbangkan faktor biologis, psikologis, lingkungan, riwayat kesehatan, hingga kondisi sosial seseorang sebelum menentukan intervensi yang tepat.

Fenomena Dunning-Kruger: Ketika Sedikit Tahu Merasa Sangat Tahu

Dalam psikologi dikenal sebuah konsep yang disebut Dunning-Kruger Effect.

Fenomena ini menggambarkan kecenderungan seseorang yang memiliki pengetahuan atau pengalaman terbatas pada suatu bidang, tetapi justru merasa dirinya sangat memahami bidang tersebut. Akibatnya, ia menjadi terlalu percaya diri dan sering kali meremehkan kompleksitas persoalan maupun pendapat para ahli.

Ironisnya, semakin sedikit seseorang memahami suatu bidang, terkadang semakin sulit baginya menyadari keterbatasan dirinya sendiri.

Sebaliknya, para profesional yang benar-benar mendalami suatu ilmu justru cenderung lebih berhati-hati dalam memberikan kesimpulan karena mereka memahami betapa kompleksnya suatu permasalahan.

Ketika ADHD Menjadi Komoditas

Fenomena serupa juga mulai terlihat pada isu ADHD.

Belakangan ini muncul sejumlah penyintas ADHD yang membuka sesi konsultasi atau pelatihan dengan biaya yang tidak sedikit. Mereka membagikan pengalaman hidupnya, strategi yang mereka gunakan, serta perjalanan mereka menghadapi berbagai tantangan.

Perlu ditegaskan, pengalaman penyintas sangat berharga.

Mereka memahami bagaimana rasanya hidup dengan ADHD dari sudut pandang yang tidak bisa sepenuhnya dipahami oleh orang lain. Pengalaman tersebut dapat menjadi sumber inspirasi, dukungan emosional, dan harapan bagi banyak orang.

Namun ada batas yang perlu dipahami.

Pengalaman pribadi tidak sama dengan kompetensi profesional.

ADHD bukanlah kondisi yang sederhana. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari aspek neurobiologis, lingkungan, pola asuh, tingkat keparahan gejala, komorbiditas, hingga karakteristik unik setiap individu.

Dua orang yang sama-sama memiliki diagnosis ADHD bisa membutuhkan pendekatan yang sangat berbeda.

Karena itulah, dalam praktik profesional, asesmen yang mendalam menjadi langkah penting sebelum menentukan bentuk intervensi.

Mengapa Profesional Tetap Dibutuhkan?

Sebagai psikolog klinis, saya sendiri tidak akan sembarangan menangani kasus ADHD yang membutuhkan kompetensi khusus tanpa melibatkan atau merujuk kepada sejawat yang memiliki keahlian lebih sesuai.

Bukan karena tidak peduli.

Justru karena memahami bahwa kondisi tersebut memerlukan penanganan yang tepat.

Profesional kesehatan mental melakukan asesmen komprehensif untuk memahami:

  • Seberapa berat gejala yang dialami.
  • Faktor lingkungan yang memengaruhi.
  • Adanya gangguan lain yang menyertai.
  • Kebutuhan intervensi yang paling sesuai.
  • Apakah diperlukan kombinasi psikoterapi, edukasi keluarga, coaching, atau bahkan pengobatan medis.

Pendekatan ini tidak bisa digantikan hanya dengan pengalaman pribadi, seberharga apa pun pengalaman tersebut.

Berbagi Pengalaman Boleh, Mengklaim Keahlian Harus Hati-Hati

Saya percaya bahwa penyintas memiliki peran penting.

Mereka dapat menjadi pendamping sebaya, sumber inspirasi, advokat, dan pemberi dukungan yang sangat berarti bagi komunitas.

Namun, ketika mulai memberikan layanan yang menyerupai praktik profesional, terutama dengan klaim-klaim yang melampaui kompetensi yang dimiliki, maka muncul pertanyaan etis yang perlu dijawab.

Apakah mereka benar-benar memahami batas kemampuan mereka?

Apakah mereka mengetahui risiko jika saran yang diberikan ternyata tidak sesuai untuk orang lain?

Ataukah mereka sebenarnya menyadari keterbatasan tersebut, tetapi memilih mengabaikannya karena adanya keuntungan finansial?

Pertanyaan-pertanyaan ini layak menjadi bahan refleksi bersama.

Menempatkan Pengalaman pada Tempatnya

Pengalaman pribadi adalah sumber pembelajaran yang luar biasa. Namun pengalaman bukanlah pengganti pendidikan, pelatihan, supervisi, kode etik, dan tanggung jawab profesional.

Masyarakat perlu belajar membedakan antara:

"Saya pernah mengalami ini."

dengan

"Saya kompeten membantu orang lain menangani ini."

Keduanya adalah hal yang berbeda.

Kita tentu dapat menghargai kisah para penyintas. Mendengarkan pengalaman mereka bisa memberi harapan dan inspirasi. Namun ketika menyangkut diagnosis, asesmen, maupun intervensi kesehatan mental, keputusan terbaik tetaplah didasarkan pada ilmu pengetahuan, kompetensi profesional, dan praktik yang berbasis bukti.

Karena dalam kesehatan mental, niat baik saja tidak selalu cukup. Yang dibutuhkan adalah bantuan yang tepat, dari orang yang tepat, dengan kompetensi yang tepat pula.